Selasa, 10 Mei 2016

Siswa Tingkat SMP/Sederajat Wil.Kabupaten Semarang Serentak Ikuti UN 2016

Kab.Semarang – Pelaksanaan UN SMP/sederajat untuk wilayah Kabupaten Semarang serentak akan dilaksanakan pada hari Senin hingga Kamis (09-12/05/2016).

Dan untuk pendistribusian UN SMP, menurut Ketua Panitia UN Wil.Pemkab setempat, Adi Prasetyo mengatakan, soal akan dikirim pada Jumat (06/05/2015) malam.

“Untuk soal UN SMP akan dikirim dari percetakan di Kudus pada Jumat (06/05) malam. Kemunginan sampai di Kantor Dinas P dan K Sabtu dini hari. Dan selanjutnya baru didistribusikan ke masing-masing sub rayon, Minggu [08/05) sebelum dibagikan ke masing-masing sekolah, yakni pada Senin pagi harinya,” penuturannya.

Sementara itu berdasarkan pemantauan, Adi menambahkan bahwa data yang diterima ada 13.565 siswa, baik itu dari SMP, MTS maupun SMPLB yang akan ikut dalam UN 2016 itu.

“Jadi data yang diterima ada sebanyak 13.565 siswa yang ikut UN, yakni mulai dari SMP, MTS maupun SMPLB,” tambahnya.

Adapun diketahui, pelaksanaan UN SMP/sederajat untuk wilayah setempat terlihat berjalan tertib, lancar dan kondusif.

.Doc: MTM/GD/Media Network Jateng.

Senin, 09 Mei 2016

Sekdes Duren, Eko Sudarmo: “Tugas Di daerah Desa Terpencil Dan Minus, Merupakan Sebuah Tatangan Yang Punya Nilai Arti Tersendiri”

Duren Banyak orang pekerja atau pegawai, manakala ditempatkan di daerah medan yang akses jalan antar desa terpencil, naik turun, licin dan berliku tentunya akan merasa ragu dan enggan. Namun dari hal itu tidak bagi diri Eko Sudarmo (42), yakni seorang pegawai perangkat desa, yang bertugas sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Minggu (08/05/2016).

Menurut Eko, bahwa itu merupakan sebuah amanah, meskipun dalam bertugas banyak tatangannya. Namun dari semua itu saya jadikan sebagai pengalaman yang penuh nilai arti tersendiri.

“Untuk itu saya tetap jalani dengan niat, tekad dan semangat. Makanya Alhamdulillah lancar dan baik-baik saja,” tuturnya.

Adapun awal dalam tugasnya pertama kali ia terlebih dulu harus dapat menempatkan diri, mempelajari, dan memahami, bagaimana karakteristik, pola pikir, dan tata kelola lahan (pertanian, perkebunan dan hutan) daerah itu. Baik itu Sumber Daya Manusia (SDM) nya ataupun Sumber Daya Alam (SDA) nya.

“Apalagi daerah desa Duren, penduduknya rata-rata hampir -+75% dengan luas 850Ha dan berpenduduk 789 jiwa : 259 KK, bermata pencaharian sebagai petani dan buruh petani. Sedangkan sisanya sebagai tukang, pegawai swasta dan PNS. Serta medan jalan daerah desa tersebut dikenal tanahnya labil dan bergerak. Disamping itu juga dikenal sebagai desa terpencil dan minus,” penuturannya pada jurnalis Network Jateng.

Selanjutnya Eko menambahkan, oleh sebab itu ketika saya sudah mengetahui akan hal tersebut, baik SDM maupun SDA daerah itu, maka saya punya tekad dan tidak ragu-ragu lagi. Bahkan siap untuk melakukan tugas sebagai Sekdes di daerah desa tersebut.

Diketahui, dalam tugasnya sebagai Sekdes, Eko sudah berkecimpung selama hampir 16 tahun sejak tahun 2009 hingga sekarang ini. Dan telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan, pelatihan dan pediklatan. Baik itu dari lingkup Pemerintah daerah setempat, maupun diluar pemerintahan. Hal ini menurut dirinya, sebagai pengalaman dan tambahan pendukung dalam tugasnya.

Sementara untuk status sebagai PNS, Eko sudah berpangkat golongan dari 2A menjadi 2B (Berdasarkan penetapan SK 1/06/2009 & 1/10/2013).

Dalam bekerja, pria kelahiran Kabupaten Semarang 05 Juni 1974 ini senantiasa mengedepankan kesinergian dan kebersamaan antar sesama perangkat desa. Serta jika ada pesoalan, baik menyangkut diri personal maupun administrasi, dilakukan pendekatan atau musyawarah.

“Apapun saat bertugas saya bersama Kepala desa senantiasa mengedepankan kebersamaan dan kesinergian, serta dapat menempatkan diri, bertanggungjawab dan tentunya dapat bekerjasama dengan berbagai pihak,” tambahnya.

Atas hal tersebut, tidak mengheran kalau desa Duren yang tadinya berimagekan sebuah desa terpencil dan minus, sekarang ini telah menjadi desa yang berpontensi maju dan diprioritaskan.

“Dari data statistik sekarang ini menunjukkan bahwa desa Duren merupakan desa yang benar-benar memiliki nilai potensi, strategis dan bermasa depan dalam hal pengelolaan, pengembangan budidaya hasil pertanian, perkebunan dan peternakan,” Jelas Eko tersenyum.


.Doc: MTM/GD/Media Network Jateng.

Sabtu, 07 Mei 2016

DPR-RI Partai Nasdem, Drs H Fadholi Adakan Masa Reses Perseorangan Di Desa Duren, Sumowono

Duren – Guna menjaring penyerapan aspirasi bagi pemenuhan kebutuhan kepentingan masyarakat desa, DPR-RI Komisi IV Fraksi Partai Nasdem, Drs H Fadholi mengadakan Kunjungan Masa Reses Perseorangan (KMRP) ke Desa Duren, Kecamatan Sumowono-Kabupaten Semarang, Sabtu (07/05/2016) pukul 14.15 WIB.

Acara kunjungan masa reses perseorangan tersebut berlangsung di Balai Desa setempat, dengan di dampingi Kepala Desa,Pramono, Sekdes, Eko Sudarmo, PLL, Sadiono, Babinsa Koramil-10, Sertu Heru Suwanto, Katibkamas, Para perwakilan desa sekitar, Kelompok Tani (Klomtan) dan masyarakat.

Sementara dalam acara kunjungannya itu, Fadholi memaparkan bahwa fungsi tanggungjawab diri sebagai selaku wakil rakyat, yang dititik beratkan pada prioritas keinginan dan harapan masyarakat desa, khusus desa Duren. Baik itu sarana dan prasarana akses jalannya, pertanian maupun peternakan.
Disamping itu, dirinya akan membantu dalam pengajuan bantuan sapi, melalui dinas terkait, baik tingkat kabupaten, Propinsi maupun pusat, agar nantinya oleh masyarakat desa sini dapat dikembang biakan. 

“Kita tau masyarakat di daerah desa Duren ini rata-rata merupakan masyarakat petani. Namun tidak menutup kemungkinan juga sebagai perajin kopi dan gula aren. Sebab daerah desa sini banyak tumbuh pohon kopi dan pohon aren,” penuturannya.

Selanjutnya dirinya menambahkan, jika hal itu dijadikan sebagai skala prioritas bagi peningkatan ekonomi, tentunya akan memilki nilai tersendiri. Dan kesejahteraan masyarakat desa Duren akan terlihat dan terangkat maju.

“Tetapi, ya tentunya ditunjang pada kesinergian semua pihak, dari perangkat desanya maupun masyarakatnya. Serta akses jalan keluar masuk di desa ini yang tampak belum memadahi dan banyak yang rusak. Hal itu perlu diperbaiki, sebab bagaimanapun juga akses jalan desa itu merupakan akses sentral bagi kelancaran jalannya roda perekonomian masyarakat desa,” imbuhnya.

Adapun  sebelum acara KMRP berakhir, masyarakat desa Duren diberikan kesempatan dan keleluasaan  untuk tanya jawab secara interaktif. Dan Tanya jawab interaktif dari masyarakat setempat terlihat sangat antusias, positif, dan respontif.


.Doc: MTM/GD/Media network Jateng.

Jumat, 06 Mei 2016

Gua Macan Watu Kelir, Tempat Penghuni Macan Titisan Begawan Wibisana

Pledokan - Tempat-tempat obyek wisata, baik bersifat local maupun nasional, entah itu sudah menjadi bagian dari aset pariwisata ataupun belum dikenal sama sekali, kebanyakan terkait dengan hal-hal yang bersifat cerita legenda maupun mistis. Oleh karena itu, saya ingin mengangkat salahsatu obyek sumber daya alam (SDA) yang masih alami, perawan dan asli. Dan dari hal tersebut dapat dijadikan referensi tersendiri kedalam bagian aset pariwisata, minimal denitasi pariwisata daerah setempat. Adapun obyek SDA itu adalah Gua Macam Watu Kelir yang ada di Dusun Ngaglik, Desa Pledokan, Kec.Sumowono-Kabupaten Semarang.

Untuk mendapatkan informasi adanya keberadaan gua macan Watu Kelir, saya langsung melakukan penelusuran ketempat tersebut.

Dan penelusuran itu, saya dipandu langsung oleh Kepala Desa Pledokan, Turja’un, Sekdes, Arifin, Babinsa, Serka Jaenuddin, Kaur Desa, Linmas serta  tiga masyarakat setempat, Minggu (01/05/2016).
Sementara untuk daya tempuh penelusurannya ketempat gua memakan waktu -+3 jam, dan itupun dilalui dengan jalan kaki, menelusuri sungai, dan tebing-tebing berbukit dengan suasana sekeliling lingkupnya masih rapat penuh semak belukar, bambu-bambu, pohon kopi dan pohon-pohon hutan. Setelah sampai ketempat tersebut, saya beserta Team Desa yang dikoordinir langsung oleh Kades setempat melakukan pengamatan, pemotretan, dan sekaligus pendataan. Hal ini guna dijadikan bahan aset administrasi bagian wisata desa, kedalam bagian pengajuan ke istitusi lembaga dinas pariwisata kabupaten.

Jelang sekitar pukul 14.30 WIB saya beserta team desa turun dan meninggalkan tempat tersebut.
Selanjutnya, ke esok harinya, Senin (02/05) saya kembali melanjutkan untuk bertemu tokoh masyarakat yang dapat menceritakan asal-usul keberadaan gua macan Watu kelir. Dan atas arahan dan petunjuk Kades pada akhirnya saya dipertemukan dengan tokoh mayarakat tersebut, yakni Bapak Kardi (65), warga Dusun Ngaglik, Desa Pledokan.

Dalam pertemuan itu, kemudian saya mulai membicarakan tentang asal-usul keberadaan gua macan Watu kelir.

Menurut pak Kardi menuturkan, pada dasarnya gua macan itu merupakan bagian sejarah yang ada kaitannya dengan alur garis legenda candi Gedong Songgo. Sebab hal itu ditilik dari letak geografik keberadaannya maupun tektur dari alamnya, yakni dinding bebatuannya sama persis dengan yang ada di Gedong Songo. Disamping itu juga nama daerah lembah atau pegunungan terkait nama dari cerita pewayangan atau dinasti kaluhuran leluhur. Seperti Gumuk Sapu angin (terkait Prabu Baladewa), Sukorini (Begawan Wibisana), Watu Keprak (Semar), Selo Janoko (Prabu Arjuna) dan Gumuk Muntuk Tali (Prabu Kresna).

“Jadi menurut leluhur kami menceritakan, gua macan Watu Kelir itu ada kaitannya dengan legenda candi Gedong Songo. Karena alur ceritanya ada pada jejak-jejak yoninya di candi tersebut. Serta dinding tektur batunya sama persis. Apalagi gua tersebut merupakan dulunya sebagai tempat peristirahatan macan atau harimau, titisan Begawan Wibisana. Makanya masyarakat sisi tidak heran dan banyak yang mengatakan, kalau yang pernah melihat macan atau harimau ditempat tersebut merupakan tempat petilasan macan titisannya Begawan Wibisana,” terangnya.

Dilhat dari bentuk dan tektur keberadaannya, gua macan Watu kelir tersebut sangat unik. Dimana mulut dan kedalaman guanya berbentuk segitiga meruncing, seperti pintu piramida, dengan lebar -+10-12 Meter, tinggi -+7M. Sedangkan kedalamannya -+6-8M.

Disamping itu, ketinggian tengahnya dapat langsung tebus dan menerobos cahaya langit maupun matahari. Serta didepan guanya terdapat aliran sungai yang bersih dan jenih. Adapun disampingnya terdapat dinding tebing batu, yang sebutannya dengan nama Watu Kelir.

Sementara saat saya menanyakan terkait hal-hal kegitan ritual ditempat itu, Pak Kardi mengatakan, biasanya untuk kegiatan ritual itu dilakukan oleh orang luar daerah sini, yakni dari Yogya, Karanganyar, dan Solo. Dan ritual tersebut, mereka melakukan sesajian, bertapa atau semedi.

 “Ritual gua macan Watu Kelir itu kebanyakan yang melakukan dari luar daerah sini, yakni orang-orang dari Yogya, Karanganyar dan Solo. Dan mereka, katanya ingin mencari keslamatan, keberkahan, dan kemulyaan/pesugihan. Baik itu untuk keharmonisan kehidupan rumah tangga, kelancaran ekonomi, maupun pangkat dan jabatan,” tuturnya tersenyum.

.Doc: MTM/GD/Media Network Jateng.




Rabu, 04 Mei 2016

Guna Peningkatan Pelayanan Bagi Masyarakat, PBRT Kota Semarang Luncurkan Aplikasi Android Pendeteksi Keberadaan BRT

Semarang – Guna memberikan pelayanan kenyamanan, kemudahan dan keselamatan bagi masyarakat pengguna Bus Rapit Transsit (BRT). Pengelola Bus Rapit Transit (PBRT) Kota Semarang telah meluncurkan aplikasi berbasis android pendekteksi keberadaan (rute) BRT.

Menurut Kepala Badan Layanan Umun (Kepblu) UPTD Terminal Mangkang Kota Semarang selaku pengelola BRT Trans Semarang, Joko Umboro mengatakan, dengan aplikasi berbasis Android tersebut, masyarakat (calon penumpang) bisa mendeteksi posisi BRT Trans Semarang untuk sampai ke shelter terdekat, serta dapat juga memantau kondisi jalan yang dilalui oleh BRT Trans Semarang.

“Disamping itu, dengan melalui aplikasi ini, pemerintah dan pengelolanya juga bisa memantau pemasukan BRT setiap hari,” penuturan Joko.

Namun demikian, papar Joko, penghitungan jarak dan waktu tempuh BRT Trans Semarang dengan selter terdekat masih berupa asumsi. Namun untuk kondisi lalu lintas tidak bisa diprediksi.

“Kecepatan tergantung kondisi jalan. Jadi, asumsi yang kami gunakan adalah kecepatan rata-rata,” katanya.

Selanjutnya ia menjelaskan, untuk hal itu masih untuk Koridor IV. Sedangkan untuk koridor lain masih akan dianggarkan dana guna pemasangan alat ticketing on bus.

“Oleh karena itu, alat ticketing BRT Trans Semarang berada di dalam bus. Dan sistemnya terkoneksi dengan aplikasi,” jelasnya.

Dari hal ini Joko harapannya, dengan aplikasi ini benar-benar dirasakan dan dapat bermanfaat oleh penumpang. Apalagi manakala diketahui sopir melakukan kecepatan tinggi dan membandel, jangan ragu-ragu untuk menegur sopir untuk mengurangi kecepatan,” imbuhnya.

Sementara itu diketahui, fungsi lain aplikasi BRT Trans Semarang yakni dapat memantau secara real time pemasukan armada. Dan pemantauannya dapat dilihat oleh pengelola serta pimpinan eksekutif BRT Trans Semarang.

“Kami jadi lebih mudah melakukan pengawasan keuangan,” katanya
.
Adapun untuk informasi layanan aplikasi tersebut dapat diunduh di laman www.play.google.com aplikasi BRT Trans Semarang memiliki ukuran 15 MB. Dan sistem operasi pada Android 4.0 ke atas.


.Doc: MTM/GD/Hms/Media Network Jateng.

Senin, 02 Mei 2016

Keindahan Tiga curug Dan Gua Macan Watu Kelir Desa Pledokan Perlu Mendapat Dukungan Dan Perhatian Khusus

Pledokan - “Mengangkat nilai potensi keindahan obyek sumber daya alam (SDA) yang ada di desa Pledokan, yakni tiga curug dan gua macan Watu Kelir, merupakan sebuah nilai yang sangat berharga sekali,” demikian kata Kepala Desa Pledokan, Turja’un bersama team perangkat desa, Babinsa dan beberapa masyarakat saat melakukan ekspedisi survai dilokasi obyek SDA tersebut, Minggu (01/05/2016) pukul 10.00 WIB.

Selanjutnya dia menambahkan, apalagi bila keindahan obyek SDA itu mendapatkan dukungan dan perhatian khusus dari pemerintah kabupaten setempat maupun pusat.

“Sebab bagaimanapun juga, obyek SDA ini berguna sebagai aset bagi kepentingan dan pendukungan pariwisata. Disamping itu, tentunya juga sebagai meningkatkan perekonomian bagi kesejahteraan  masyarakat desa sini dan juga sekitarnya,” jelasnya.

Sementara diketahui, bahwa keindahan obyek SDA tiga curug dan gua macan Watu Kelir itu terlihat masih perawan, asli dan alami. Serta belum begitu banyak orang mengenalnya, bahkan belum terakses dipublikasikan.

Dari hal tersebut, Kades Turja’un bersama team perangkatnya lantas membahas bagaimana obyek SDA tersebut untuk dapat terakses, dikenal, terangkat, dan dikembangkan.

“Setelah kita habis melakukan survai dan telah tau, maka obyek keindahan SDA tiga curug dan gua macan Watu Kelir tersebut memang harus dan perlu diangkat dan dipromosikan. Oleh karena itu, tentunya dibutuhkan dukungan, perjuangan dan kerjasamanya dari berbagi pihak,” tutur Turja’un pada jurnalis media online network Jateng.

Untuk hasil pembahasannya, menurut Turja’un menyimpulkan ada empat point yang telah kita garis bawahi, yaitu; penataan akses jalan, pengelolaan tata lingkungan, keamanan, dan kapasitas prosentase nilai inkamnya.

“Empat point itu menjadikan agenda pertimbangan dan acuan bagi kita. Dan dari hal tersebut, secepatnya dapat ditidaklanjuti. Dan harapannya dapat terealisaikan, serta mendapatkan prioritas dukungan tersendiri dari pemerintah kabupaten melalui lembaga istitusi dinas pariwisata,” penuturannya.

.Medan Dan Posisi Keberadaannya.
Adapun medan dan posisi keberadaan obyek SDA tiga curug tersebut berada ditebing gunung Watu Kelir, tepatnya diwilayah Desa Pledokan, Ungaran dengan ketinggian -+ 800m dpl. Dan suasana sekeliling lingkupnya masih rapat penuh semak belukar, bambu-bambu, pohon kopi dan pohon-pohon hutan. Sedangkan untuk gua macan Watu Kelirnya berada di bawah aliran sungai tebing Watu Kelir.
Sementara daya tempuh untuk sampai ditempat obyek SDA itu memakan waktu hamper kurang lebih 3 jam. Dan itupun dilalui dengan jalan kaki, menelusuri sungai, dan tebing-tebing berbukit.

Adapun adanya diketemukan tiga curug dan gua macan Watu Kelir tersebut dulunya berasal dari salahsatu leluhur penduduk desa setempat sedang membuka lahan. sedangkan untuk legendanya merupakan sebagai tempat pertapaan dan sarana laku ritual para dalang. Bahkan ada juga yang menceritakan tempat tersebut banyak menyimpan harta karun, berupa batu emas.

“Jadi menurut leluhur daerah sini menceritakan bahwa dulunya tempat tersebut sebagai tempat untuk bertapa, dan juga sebagai ritual bagi para dalang sebelum mengelar wayang. Tetapi ada yang menceritakan bahwa tempat itu banyak menyimpan harta karun, yakni emas,” penuturan Waluyo, salahsatu anak keturunan leluhur penduduk desa pledokan.

Namun dari hal itu menurut Waluyo menceritakan lebihlanjut, daerah obyek SDA itu juga dikenal penuh misteri dan sarat keanehan. Dimana banyak penduduk daerah desa tersebut dan sekitarnya sering menjumpai, setiap lewat di daerah lokasi itu, dan jika pas pada malam Jumat Kliwon akan mendengar suara gamelan wayang, dan itupun juga ada yang memainkan wayang (dalangnya, red). Tetapi kalau didekati ternyata tidak ada atau gaib.

“Seringkali ada warga sini, setiap lewat di daerah itu, dan pas malam Jumat Kliwon, sering mendengar klonengan wayang. Bahkan juga melihat ada dalang lagi memainkan wayang. Namun pada saat didekati tidak ada dan hilang,” ucapnya mengakhiri ceritanya.


.Doc: MTM/GD/Media Network Jateng.