.Doc: JKY@lind_21.
Kamis, 12 Mei 2016
Selasa, 10 Mei 2016
Siswa Tingkat SMP/Sederajat Wil.Kabupaten Semarang Serentak Ikuti UN 2016
Kab.Semarang – Pelaksanaan UN SMP/sederajat untuk
wilayah Kabupaten Semarang serentak akan dilaksanakan pada hari Senin hingga
Kamis (09-12/05/2016).
Dan untuk pendistribusian UN SMP, menurut Ketua
Panitia UN Wil.Pemkab setempat, Adi Prasetyo mengatakan, soal akan dikirim pada
Jumat (06/05/2015) malam.
“Untuk soal UN SMP akan dikirim dari percetakan di
Kudus pada Jumat (06/05) malam. Kemunginan sampai di Kantor Dinas P dan K Sabtu
dini hari. Dan selanjutnya baru didistribusikan ke masing-masing sub rayon, Minggu
[08/05) sebelum dibagikan ke masing-masing sekolah, yakni pada Senin pagi
harinya,” penuturannya.
Sementara itu berdasarkan pemantauan, Adi
menambahkan bahwa data yang diterima ada 13.565 siswa, baik itu dari SMP, MTS
maupun SMPLB yang akan ikut dalam UN 2016 itu.
“Jadi data yang diterima ada sebanyak 13.565 siswa
yang ikut UN, yakni mulai dari SMP, MTS maupun SMPLB,” tambahnya.
Adapun diketahui, pelaksanaan UN SMP/sederajat
untuk wilayah setempat terlihat berjalan tertib, lancar dan kondusif.
.Doc:
MTM/GD/Media Network Jateng.
Senin, 09 Mei 2016
Sekdes Duren, Eko Sudarmo: “Tugas Di daerah Desa Terpencil Dan Minus, Merupakan Sebuah Tatangan Yang Punya Nilai Arti Tersendiri”
Duren – Banyak
orang pekerja atau pegawai, manakala ditempatkan
di daerah medan yang
akses jalan antar desa terpencil, naik turun, licin dan berliku
tentunya akan merasa ragu dan enggan. Namun dari hal itu tidak bagi diri Eko Sudarmo (42), yakni seorang pegawai perangkat
desa, yang bertugas sebagai Sekretaris
Desa (Sekdes) Duren, Kecamatan
Sumowono, Kabupaten Semarang, Minggu (08/05/2016).
Menurut Eko, bahwa itu merupakan
sebuah amanah, meskipun dalam bertugas banyak tatangannya. Namun dari semua itu saya jadikan sebagai pengalaman yang penuh nilai arti
tersendiri.
“Untuk itu saya tetap jalani dengan niat, tekad
dan semangat. Makanya Alhamdulillah lancar dan baik-baik saja,” tuturnya.
Adapun awal dalam tugasnya pertama kali ia terlebih dulu harus dapat menempatkan
diri, mempelajari, dan memahami, bagaimana karakteristik, pola pikir, dan tata
kelola lahan (pertanian, perkebunan dan hutan) daerah itu. Baik itu Sumber Daya
Manusia (SDM) nya ataupun Sumber Daya Alam (SDA) nya.
“Apalagi daerah desa Duren, penduduknya rata-rata hampir -+75% dengan luas 850Ha dan
berpenduduk 789 jiwa : 259 KK, bermata pencaharian sebagai petani dan buruh petani. Sedangkan sisanya
sebagai tukang, pegawai swasta dan PNS. Serta
medan jalan daerah desa tersebut dikenal tanahnya labil dan bergerak. Disamping
itu juga dikenal sebagai desa terpencil dan minus,” penuturannya pada jurnalis
Network Jateng.
Selanjutnya Eko menambahkan, oleh sebab itu ketika saya sudah mengetahui akan hal
tersebut, baik SDM maupun SDA daerah itu, maka saya punya tekad dan tidak ragu-ragu lagi. Bahkan siap untuk melakukan tugas sebagai Sekdes
di daerah desa tersebut.
Diketahui, dalam tugasnya sebagai Sekdes, Eko sudah berkecimpung selama
hampir 16 tahun sejak tahun 2009 hingga sekarang ini.
Dan
telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan, pelatihan dan
pediklatan. Baik itu dari lingkup Pemerintah daerah setempat, maupun diluar
pemerintahan. Hal ini menurut dirinya, sebagai pengalaman dan tambahan
pendukung dalam tugasnya.
Sementara untuk status sebagai PNS, Eko sudah
berpangkat golongan dari 2A menjadi 2B (Berdasarkan penetapan SK 1/06/2009
& 1/10/2013).
Dalam bekerja, pria kelahiran Kabupaten Semarang 05 Juni 1974 ini senantiasa mengedepankan
kesinergian dan kebersamaan antar sesama perangkat desa. Serta jika ada
pesoalan, baik menyangkut diri personal maupun administrasi, dilakukan pendekatan
atau musyawarah.
“Apapun saat bertugas saya bersama Kepala desa senantiasa
mengedepankan kebersamaan dan kesinergian, serta dapat menempatkan diri,
bertanggungjawab dan tentunya dapat bekerjasama dengan berbagai pihak,”
tambahnya.
Atas hal tersebut, tidak mengheran kalau desa
Duren yang tadinya berimagekan sebuah desa terpencil dan minus, sekarang ini
telah menjadi desa yang berpontensi maju dan diprioritaskan.
“Dari data statistik sekarang ini menunjukkan bahwa desa Duren merupakan desa
yang benar-benar memiliki nilai potensi, strategis dan bermasa depan dalam hal
pengelolaan, pengembangan budidaya hasil pertanian, perkebunan
dan peternakan,” Jelas Eko tersenyum.
.Doc:
MTM/GD/Media Network Jateng.
Sabtu, 07 Mei 2016
DPR-RI Partai Nasdem, Drs H Fadholi Adakan Masa Reses Perseorangan Di Desa Duren, Sumowono
Duren –
Guna menjaring penyerapan aspirasi bagi pemenuhan kebutuhan kepentingan
masyarakat desa, DPR-RI Komisi IV Fraksi Partai Nasdem, Drs H Fadholi mengadakan
Kunjungan Masa Reses Perseorangan (KMRP) ke Desa Duren, Kecamatan
Sumowono-Kabupaten Semarang, Sabtu (07/05/2016) pukul 14.15 WIB.
Acara kunjungan masa reses perseorangan tersebut berlangsung
di Balai Desa setempat, dengan di dampingi Kepala Desa,Pramono, Sekdes, Eko
Sudarmo, PLL, Sadiono, Babinsa Koramil-10, Sertu Heru Suwanto, Katibkamas, Para
perwakilan desa sekitar, Kelompok Tani (Klomtan) dan masyarakat.
Sementara dalam acara kunjungannya itu, Fadholi memaparkan bahwa
fungsi tanggungjawab diri sebagai selaku wakil rakyat, yang dititik beratkan
pada prioritas keinginan dan harapan masyarakat desa, khusus desa Duren. Baik itu
sarana dan prasarana akses jalannya, pertanian maupun peternakan.
Disamping itu, dirinya akan membantu dalam pengajuan bantuan
sapi, melalui dinas terkait, baik tingkat kabupaten, Propinsi maupun pusat,
agar nantinya oleh masyarakat desa sini dapat dikembang biakan.
“Kita tau masyarakat di daerah desa Duren ini rata-rata
merupakan masyarakat petani. Namun tidak menutup kemungkinan juga sebagai
perajin kopi dan gula aren. Sebab daerah desa sini banyak tumbuh pohon kopi dan
pohon aren,” penuturannya.
Selanjutnya dirinya menambahkan, jika hal itu dijadikan
sebagai skala prioritas bagi peningkatan ekonomi, tentunya akan memilki nilai
tersendiri. Dan kesejahteraan masyarakat desa Duren akan terlihat dan terangkat
maju.
“Tetapi, ya tentunya ditunjang pada kesinergian semua pihak,
dari perangkat desanya maupun masyarakatnya. Serta akses jalan keluar masuk di
desa ini yang tampak belum memadahi dan banyak yang rusak. Hal itu perlu
diperbaiki, sebab bagaimanapun juga akses jalan desa itu merupakan akses
sentral bagi kelancaran jalannya roda perekonomian masyarakat desa,” imbuhnya.
Adapun sebelum acara
KMRP berakhir, masyarakat desa Duren diberikan kesempatan dan keleluasaan untuk tanya jawab secara interaktif. Dan Tanya
jawab interaktif dari masyarakat setempat terlihat sangat antusias, positif, dan
respontif.
.Doc: MTM/GD/Media
network Jateng.
Jumat, 06 Mei 2016
Gua Macan Watu Kelir, Tempat Penghuni Macan Titisan Begawan Wibisana
Pledokan - Tempat-tempat obyek wisata, baik
bersifat local maupun nasional, entah itu sudah menjadi bagian dari aset
pariwisata ataupun belum dikenal sama sekali, kebanyakan terkait dengan hal-hal
yang bersifat cerita legenda maupun mistis. Oleh karena itu, saya ingin
mengangkat salahsatu obyek sumber daya alam (SDA) yang masih alami, perawan dan
asli. Dan dari hal tersebut dapat dijadikan referensi tersendiri kedalam bagian
aset pariwisata, minimal denitasi pariwisata daerah setempat. Adapun obyek SDA
itu adalah Gua Macam Watu Kelir yang ada di Dusun Ngaglik, Desa Pledokan,
Kec.Sumowono-Kabupaten Semarang.
Untuk
mendapatkan informasi adanya keberadaan gua macan Watu Kelir, saya langsung
melakukan penelusuran ketempat tersebut.
Dan
penelusuran itu, saya dipandu langsung oleh Kepala Desa Pledokan, Turja’un,
Sekdes, Arifin, Babinsa, Serka Jaenuddin, Kaur Desa, Linmas serta tiga masyarakat setempat, Minggu (01/05/2016).
Sementara
untuk daya tempuh penelusurannya ketempat gua memakan waktu -+3 jam, dan itupun
dilalui dengan jalan kaki, menelusuri sungai, dan tebing-tebing berbukit dengan
suasana sekeliling lingkupnya masih rapat penuh semak belukar, bambu-bambu,
pohon kopi dan pohon-pohon hutan. Setelah sampai ketempat tersebut, saya
beserta Team Desa yang dikoordinir langsung oleh Kades setempat melakukan pengamatan,
pemotretan, dan sekaligus pendataan. Hal ini guna dijadikan bahan aset
administrasi bagian wisata desa, kedalam bagian pengajuan ke istitusi lembaga
dinas pariwisata kabupaten.
Jelang
sekitar pukul 14.30 WIB saya beserta team desa turun dan meninggalkan tempat
tersebut.
Selanjutnya,
ke esok harinya, Senin (02/05) saya kembali melanjutkan untuk bertemu tokoh
masyarakat yang dapat menceritakan asal-usul keberadaan gua macan Watu kelir.
Dan atas arahan dan petunjuk Kades pada akhirnya saya dipertemukan dengan tokoh
mayarakat tersebut, yakni Bapak Kardi (65), warga Dusun Ngaglik, Desa Pledokan.
Dalam pertemuan
itu, kemudian saya mulai membicarakan tentang asal-usul keberadaan gua macan
Watu kelir.
Menurut pak
Kardi menuturkan, pada dasarnya gua macan itu merupakan bagian sejarah yang ada
kaitannya dengan alur garis legenda candi Gedong Songgo. Sebab hal itu ditilik
dari letak geografik keberadaannya maupun tektur dari alamnya, yakni dinding bebatuannya
sama persis dengan yang ada di Gedong Songo. Disamping itu juga nama daerah
lembah atau pegunungan terkait nama dari cerita pewayangan atau dinasti kaluhuran
leluhur. Seperti Gumuk Sapu angin (terkait Prabu Baladewa), Sukorini (Begawan
Wibisana), Watu Keprak (Semar), Selo Janoko (Prabu Arjuna) dan Gumuk Muntuk
Tali (Prabu Kresna).
“Jadi menurut
leluhur kami menceritakan, gua macan Watu Kelir itu ada kaitannya dengan legenda
candi Gedong Songo. Karena alur ceritanya ada pada jejak-jejak yoninya di candi
tersebut. Serta dinding tektur batunya sama persis. Apalagi gua tersebut
merupakan dulunya sebagai tempat peristirahatan macan atau harimau, titisan Begawan
Wibisana. Makanya masyarakat sisi tidak heran dan banyak yang mengatakan, kalau
yang pernah melihat macan atau harimau ditempat tersebut merupakan tempat petilasan macan
titisannya Begawan Wibisana,” terangnya.
Dilhat
dari bentuk dan tektur keberadaannya, gua macan Watu kelir tersebut sangat
unik. Dimana mulut dan kedalaman guanya berbentuk segitiga meruncing, seperti
pintu piramida, dengan lebar -+10-12 Meter, tinggi -+7M. Sedangkan kedalamannya
-+6-8M.
Disamping itu,
ketinggian tengahnya dapat langsung tebus dan menerobos cahaya langit maupun
matahari. Serta didepan guanya terdapat aliran sungai yang bersih dan jenih. Adapun
disampingnya terdapat dinding tebing batu, yang sebutannya dengan nama Watu
Kelir.
Sementara
saat saya menanyakan terkait hal-hal kegitan ritual ditempat itu, Pak Kardi
mengatakan, biasanya untuk kegiatan ritual itu dilakukan oleh orang luar daerah
sini, yakni dari Yogya, Karanganyar, dan Solo. Dan ritual tersebut, mereka
melakukan sesajian, bertapa atau semedi.
“Ritual gua macan Watu Kelir itu kebanyakan yang
melakukan dari luar daerah sini, yakni orang-orang dari Yogya, Karanganyar dan
Solo. Dan mereka, katanya ingin mencari keslamatan, keberkahan, dan kemulyaan/pesugihan. Baik itu untuk keharmonisan kehidupan
rumah tangga, kelancaran ekonomi, maupun pangkat dan jabatan,” tuturnya
tersenyum.
.Doc: MTM/GD/Media
Network Jateng.
Rabu, 04 Mei 2016
Guna Peningkatan Pelayanan Bagi Masyarakat, PBRT Kota Semarang Luncurkan Aplikasi Android Pendeteksi Keberadaan BRT
Semarang – Guna memberikan pelayanan kenyamanan,
kemudahan dan keselamatan bagi masyarakat pengguna Bus Rapit Transsit (BRT). Pengelola
Bus Rapit Transit (PBRT) Kota Semarang telah meluncurkan aplikasi berbasis
android pendekteksi keberadaan (rute) BRT.
Menurut
Kepala Badan Layanan Umun (Kepblu) UPTD Terminal Mangkang Kota Semarang selaku
pengelola BRT Trans Semarang, Joko Umboro mengatakan, dengan aplikasi berbasis
Android tersebut, masyarakat (calon penumpang) bisa mendeteksi posisi BRT Trans
Semarang untuk sampai ke shelter terdekat, serta dapat juga memantau kondisi
jalan yang dilalui oleh BRT Trans Semarang.
“Disamping
itu, dengan melalui aplikasi ini, pemerintah dan pengelolanya juga bisa
memantau pemasukan BRT setiap hari,” penuturan Joko.
Namun
demikian, papar Joko, penghitungan jarak dan waktu tempuh BRT Trans Semarang
dengan selter terdekat masih berupa asumsi. Namun untuk kondisi lalu lintas
tidak bisa diprediksi.
“Kecepatan
tergantung kondisi jalan. Jadi, asumsi yang kami gunakan adalah kecepatan
rata-rata,” katanya.
Selanjutnya ia
menjelaskan, untuk hal itu masih untuk Koridor IV. Sedangkan untuk koridor lain
masih akan dianggarkan dana guna pemasangan alat ticketing on bus.
“Oleh karena
itu, alat ticketing BRT Trans Semarang berada di dalam bus. Dan sistemnya
terkoneksi dengan aplikasi,” jelasnya.
Dari hal ini
Joko harapannya, dengan aplikasi ini benar-benar dirasakan dan dapat bermanfaat
oleh penumpang. Apalagi manakala diketahui sopir melakukan kecepatan tinggi dan
membandel, jangan ragu-ragu untuk menegur sopir untuk mengurangi kecepatan,”
imbuhnya.
Sementara
itu diketahui, fungsi lain aplikasi BRT Trans Semarang yakni dapat memantau
secara real time pemasukan armada. Dan pemantauannya dapat dilihat oleh
pengelola serta pimpinan eksekutif BRT Trans Semarang.
“Kami jadi
lebih mudah melakukan pengawasan keuangan,” katanya
.
Adapun untuk
informasi layanan aplikasi tersebut dapat diunduh di laman www.play.google.com
aplikasi BRT Trans Semarang memiliki ukuran 15 MB. Dan sistem operasi pada Android
4.0 ke atas.
.Doc: MTM/GD/Hms/Media
Network Jateng.
Senin, 02 Mei 2016
Keindahan Tiga curug Dan Gua Macan Watu Kelir Desa Pledokan Perlu Mendapat Dukungan Dan Perhatian Khusus
Pledokan - “Mengangkat nilai potensi keindahan obyek
sumber daya alam (SDA) yang ada di desa Pledokan, yakni tiga curug dan gua
macan Watu Kelir, merupakan sebuah nilai yang sangat berharga sekali,” demikian
kata Kepala Desa Pledokan, Turja’un bersama team perangkat desa, Babinsa dan
beberapa masyarakat saat melakukan ekspedisi survai dilokasi obyek SDA tersebut,
Minggu (01/05/2016) pukul 10.00 WIB.
Selanjutnya
dia menambahkan, apalagi bila keindahan obyek SDA itu mendapatkan dukungan dan
perhatian khusus dari pemerintah kabupaten setempat maupun pusat.
“Sebab
bagaimanapun juga, obyek SDA ini berguna sebagai aset bagi kepentingan dan
pendukungan pariwisata. Disamping itu, tentunya juga sebagai meningkatkan
perekonomian bagi kesejahteraan
masyarakat desa sini dan juga sekitarnya,” jelasnya.
Sementara diketahui,
bahwa keindahan obyek SDA tiga curug dan gua macan Watu Kelir itu terlihat masih
perawan, asli dan alami. Serta belum begitu banyak orang mengenalnya, bahkan
belum terakses dipublikasikan.
Dari hal
tersebut, Kades Turja’un bersama team perangkatnya lantas membahas bagaimana
obyek SDA tersebut untuk dapat terakses, dikenal, terangkat, dan dikembangkan.
“Setelah
kita habis melakukan survai dan telah tau, maka obyek keindahan SDA tiga curug
dan gua macan Watu Kelir tersebut memang harus dan perlu diangkat dan
dipromosikan. Oleh karena itu, tentunya dibutuhkan dukungan, perjuangan dan
kerjasamanya dari berbagi pihak,” tutur Turja’un pada jurnalis media online network Jateng.
Untuk hasil
pembahasannya, menurut Turja’un menyimpulkan ada empat point yang telah kita
garis bawahi, yaitu; penataan akses jalan, pengelolaan tata lingkungan,
keamanan, dan kapasitas prosentase nilai inkamnya.
“Empat point
itu menjadikan agenda pertimbangan dan acuan bagi kita. Dan dari hal tersebut,
secepatnya dapat ditidaklanjuti. Dan harapannya dapat terealisaikan, serta mendapatkan
prioritas dukungan tersendiri dari pemerintah kabupaten melalui lembaga
istitusi dinas pariwisata,” penuturannya.
.Medan Dan Posisi Keberadaannya.
Adapun medan
dan posisi keberadaan obyek SDA tiga curug tersebut berada ditebing gunung Watu
Kelir, tepatnya diwilayah Desa Pledokan, Ungaran dengan ketinggian -+ 800m dpl.
Dan suasana sekeliling lingkupnya masih rapat penuh semak belukar, bambu-bambu,
pohon kopi dan pohon-pohon hutan. Sedangkan untuk gua macan Watu Kelirnya berada
di bawah aliran sungai tebing Watu Kelir.
Sementara
daya tempuh untuk sampai ditempat obyek SDA itu memakan waktu hamper kurang
lebih 3 jam. Dan itupun dilalui dengan jalan kaki, menelusuri sungai, dan
tebing-tebing berbukit.
Adapun adanya
diketemukan tiga curug dan gua macan Watu Kelir tersebut dulunya berasal dari
salahsatu leluhur penduduk desa setempat sedang membuka lahan. sedangkan untuk
legendanya merupakan sebagai tempat pertapaan dan sarana laku ritual para
dalang. Bahkan ada juga yang menceritakan tempat tersebut banyak menyimpan harta
karun, berupa batu emas.
“Jadi
menurut leluhur daerah sini menceritakan bahwa dulunya tempat tersebut sebagai tempat
untuk bertapa, dan juga sebagai ritual bagi para dalang sebelum mengelar
wayang. Tetapi ada yang menceritakan bahwa tempat itu banyak menyimpan harta
karun, yakni emas,” penuturan Waluyo, salahsatu anak keturunan leluhur penduduk
desa pledokan.
Namun dari
hal itu menurut Waluyo menceritakan lebihlanjut, daerah obyek SDA itu juga
dikenal penuh misteri dan sarat keanehan. Dimana banyak penduduk daerah desa
tersebut dan sekitarnya sering menjumpai, setiap lewat di daerah lokasi itu, dan
jika pas pada malam Jumat Kliwon akan mendengar suara gamelan wayang, dan itupun
juga ada yang memainkan wayang (dalangnya, red). Tetapi kalau didekati ternyata
tidak ada atau gaib.
“Seringkali
ada warga sini, setiap lewat di daerah itu, dan pas malam Jumat Kliwon, sering
mendengar klonengan wayang. Bahkan juga melihat ada dalang lagi memainkan
wayang. Namun pada saat didekati tidak ada dan hilang,” ucapnya mengakhiri
ceritanya.
.Doc: MTM/GD/Media
Network Jateng.
Langganan:
Postingan (Atom)



