Senin, 05 November 2012

Implisit Berita Iklan Kunci Sukses Kemandirian Stiker Bagus Bermodalkan; Sabar, Teliti, Tekun Dan Ulet



Semarang - “Pengembangan kemandirian usaha yang bergerak dalam tempel menempel ornament / stiker untuk mempercantik sepeda motor dan mobil, dibutuhkan keahliandan ketelitian. Serta tentunya dengan menerapkan kesabaran, ketekunan dan keuletan”, demikian tutur Bagus, pemilik stiker yang berada dipinggir jalan Kelud Raya, Kel. Petompon-Semarang.
Oleh karenanya, tidak mengherankan jika usaha stiker tersebut cukup dikenal, ramai, sukses dan banyak pelanggan. Hal itu disebabkan dirinya selalu memberikan kepuasan bagi para konsumennya.
Photo : Jky@21
“Selama kita dapat memberikan pelayanan, perbaikan dengan baik, teliti dan benar, pelanggan akan merasa puas. Seperti halnya, salah satu contoh bagaimana memberikan penjelasan atau menunjukan ornament apa yang sesuai dengan kendaraannya. Baik itu gambar maupun motif warnanya,” jelasnya.
Sementara dalam menangani pengembangan usahanya, pemilik stiker tersebut mulai buka pukul 9.00 pagi hingga 21.00 malam. Dan adapun untuk soal harga, menurutnya sangat bervariatif dan tergantung dari ukuran maupun bahannya.

.MT.M.

Kuda Lumping, Tarian Tradisional Sebuah Nasib Yang Tersisikan Dan Benar-benar Menungging



Dalam Lingkaran
berputar-putar
penari tak sadarkan diri
mata terpejam
mengunyah beling
mempertahankan hidup yang sulit……

Seklumit sebuah lirik album ‘Swami’ Iwan Fals & Sawung Jabo. Hal itu menunjukan gambaran realitas yang sangat jelas, bagaimana seorang penari kuda lumping dalam mengais sekepil rejeki untuk hidupnya dengan / harus mempertahankan diri pada ritme - ritme alur sebuah kehidupan yang serba sulit dan penuh resiko. Padahal kita tahu bahwa tari tradisional tersebut merupakan bagian budaya kaluhuran leluhur bangsa kita. Dimana tercermin sarat memilki nilai - nilai filosofi adiluhung, aktualisasi pesan moral dan karakteristik sebuah karya nilai seni.

 
           . Ilustrasi By: JKY@21 .

Namun sangat disayangkan, banyak kita jumpai dipinggiran sudut jalan raya. Bagaimana gambaran orang - orang tersebut. Entah itu dirinya seorang seniman atau hanya pelaku aku dianggap sebagai seniman yang harus melakukan tindakan mencari sekepil uang dengan cara menari dengan diiringi alunan beberapa perangkat gamelan. Yang mana, sesungguhnya dilakukan pada tempat tidak semestinya. Bukankah hal itu sebuah pemandangan yang tragis dan memalukan? Ataukah nilai seni tari tradisional kaluhuran leluhur tersebut sudah tak beraura perbawa lagi? Ataukah di era kebebasan sebuah perubahan yang katanya menjunjung moral seni budaya, sudah tak mau atau bahkan enggan untuk mengangkat, mengembangkan dan mewadahi tari tradisional seni budaya tersebut? Ataukah peran dan fungsi pemerintah yang membawahi instansi / Departemen yang membidangi dalam bidang seni budaya telah mati? Ataukah mungkin dan jangan - jangan; seni budaya tari tradisional semacam itu sudah tak dapat dijual atau tak mampu sebagai bahan aset nilai hasil wujud bagi negara?
 Ataukah…ataukah…ataukah……………………………………………………………………….........hiaaaaa….!
Sementara dalam prefektif pemikiran dan hasil penelitian, bahwa kuda lumping / jaran kepang / jatilan merupakan sebuah tari tradisional budaya warisan nenek moyang, khususnya masyarakat jawa. Dan ada sejak jaman kerajaan - kerajaan tempo dulu
Adapun tarian tersebut lahir, menurut sejarah, atas sebuah wujud apresiasi dan ekspresi yang terbagi menjadi beberapa bentuk / simbol, antara lain;
-       Bentuk sebuah simbol keprihatinan kaum jelata / rakyat terhadap suatu keadaan adanya ketidakadilan, kepalsuan dan kebohongan.
-       Bentuk sebuah simbol bahwa kaum jelata / rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara.
-       Bentuk sebuah simbol sebuah tontonan / hiburan yang fundamental dan fenomenal milik kaum jelata / rakyat.
-       Bentuk sebuah simbol sebagai bentuk protesnya kaum jelata / rakyat terhadap kaum penguasa atas tindakan kesewenang-wenangan.
Kemudian dalam realitas perkembangannya, seni tradisional kuda lumping tidak hanya tertumpu pada batas tataran grafik budaya misi sosial kemasyarakatan saja. Namun juga digunakan pada suatu kepentingan historikal misi keagamaan dan politik.
Oleh karena itu, apapun bentuk dan wujud dalam perkembangannya, merupakan budaya apresiasi dan ekspresi dari hasil olah karya milik bangsa kita. Dan hal itu, tentunya diri kita harus bangga untuk dapat menjaga dan memeliharanya dengan baik. Serta terus mempertahankan dan mengembangkannya. Agar tari tradisional tersebut tidak tenggelam dan hilang ditelan catatan waktu dari khasanah berkesenian masyarakat kita.

. Doc. MTM - 21 .

Kamis, 01 November 2012

Menikmati Panorama Keindahan Candi ‘Gedong Songo’


Ambarawa – Candi gedong songo adalah sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Ambarawa – Kabupaten Semarang, tepatnya dilereng gunung Ungaran. Adapun dikomplek candi tersebut terdapat lima candi yang ditemukan Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya hindu dinasti zaman Wangsa Syaelendra abad ke – 4 tahun 927 Masehi.
Sementara, dilihat dari sesuai namanya, komplek candi tersebut terdapat Sembilan candi. Dimana dari letaknya berderet dari bawah sampai atas dengan terpisah satu sama lainnya menyusuri lereng jalan setapak. Hal itu, dilihat dari letak penataannya menjadikan pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan. Guna bagi pengunjung / wisatawan, ketika mengunjungi semua candi biasanya berjalan kaki atau menyewa kuda sambil menikmati keindahan alam dan kesegaran udara pegunungan. Apalagi disekitarnya terdapat hamparan bunga mawar, hutan pinus dan tanaman sayur-sayuran. Disamping itu juga dari ketinggian 100 meter, pengunjung dapat menyaksikan lukisan alam kota Ambarawa dan genangan air Rawa Pening dengan latar gunung Sumbing dan Sindoro.
Diantara dari Sembilan candi tersebut, sayangnya hanya terdapat lima candi yang utuh. Untuk candi yang pertama terdapat patung Yoni yang merupakan sebagai lambang kesuburan dan tidak jauh dari candi ke tiga terdapat air belerang yang sangat dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Di candi yang ke lima tidak ada yang special, karena tidak terdapat arca seperti bangunan candi lainnya. Namun dapat menikmati keindahan panorama keindahan gunung Merbabu dan gunung lainnya. Sementara itu, untuk candi yang terdapat dipuncak paling tinggi disebut puncak Nirwana.
                                                                     .jky@21
Dari sekian candi dapat dijumpai berbagai patung dewa, seperti Syiwa Mahaguru, Syiwa Mahadewa dan Syiwa Mahakala, Dhurgamahesasuramadhani dan Ghanesa. ( Doc: Team MLI )