Selasa, 03 Juni 2014

Jelang Masa Kampanye Sampai Pilpres, Nilai Rupiah Mulai Melemah



JAKARTA -  Perlahan-lahan, Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, (03/06/2014) pagi, bergerak melemah sebesar 32 poin menjadi Rp 11.798 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 11.766 per dolar AS. Hal ini terjadi jelang mulai masa kampanye calon pilpres.

Menurut analis Monex Investindo Futures Zulfirman Basir, Selasa, (03/06) di Jakarta mengatakan, pelaku pasar uang masih menanggapi negatif data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang telah dirilis Senin, (02/06) kemarin.

Sementara dalam data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Mei 2014 tercatat inflasi sebesar 0,16 persen, dan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,96 miliar dolar AS.
Namun di sisi lain, lanjut Zulfirman Basir, pelaku pasar uang juga terlihat berhati-hati seiring dimulainya masa kampanye Calon Presiden Indonesia hingga berlangsungnya pemilu presiden pada 9 Juli mendatang.

Ia menambahkan bahwa dari sisi fundamental, penguatan dolar AS masih tertopang oleh kemungkinan pelonggaran kebijakan bank sentral Eropa (ECB), kondisi itu cukup membebani kinerja rupiah.

"Keputusan hasil pertemuannya ECB itu pada Kamis,(04/06) mendatang, kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter ECB masih berlanjut," katanya.

.Lind@Ant/Rep/J.21.

Kapolri Jenderal Sutarman: “Dalam Pilpres 2014, Jajarannya Untuk Bersikap Netral”



JAKARTA- Kapolri Jenderal Sutarman mengingatkan jajarannya untuk bersikap netral dalam Pemilu 2014. Meski dia tidak memungkiri anak buahnya bisa menjadi target politik sehingga terbawa kepada politik partisan.

"Politik ini kotor. Menghalalkan berbagai cara dan tidak menutup kemungkinan anda-anda menjadi targetnya," kata Jenderal Sutarman di hadapan ratusan Perwira menengah dan tinggi di PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta Selatan, Selasa (03/06/2014).

"Kalau ada, satu-dua temen-teman yang kebawa sana kemari," tegasnya di atas podium.

Sutarman meminta dengan tegas kepada jajarannya, agar bersikap netral baik itu secara individu atau institusi.

"Tidak mendukung siapapun, Polri harus netral," kata jenderal bintang empat ini.

Sikap ini pula diharapkan dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap Korps Bhayangkara.
Terkait kasus teror jelang Pilpres, Kapolri mencontohkan
dalam peristiwa penembakan di Aceh masa Pileg beberapa waktu lalu. Oleh karena itu, Sutarman meminta jajarannya untuk melakukan monitoring dan deteksi dini, agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

""Kalau kita menjadi institusi hebat, kuat, maka masyarakat akan semakin percaya dengan kita
. Dan, lakukan monitoring agar tidak terulang," himbauannya.

.Lind@Ant/Dtk/Rep/JMP-21.

Senin, 02 Juni 2014

Hari ini, Jokowi Akan Sowan Ke Sri Sultan Hamengkubowono ke X



JAKARTA -  Capres yang diusung dari PDIP, Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan bersilaturrahmi ke kediaman Sri Sultan Hamengkubowono ke X di Keraton Yogyakarta, Senin (2/06/2014). Rencananya, Jokowi akan sowan ke gubernur DIY Yogyakarta tersebut, bersama dengan calon wakil presiden Jusuf Kalla (JK).

Adapun Jokowi sendiri akan terbang ke Yogyakarta dari Bandara Halim Perdanakusuma. Dan begitu tiba di kota pelajar tersebut, Jokowi akan langsung blusukan ke Pasar Malioboro.

Kemudian setelah itu, pada pukul 11.00 WIB, Jokowi akan menuju Keraton Yogyakarta untuk bertemu dengan Sri Sultan.

Usai dari Keraton, gubernur DKI Jakarta non aktif tersebut akan melanjutkan safari politiknya dengan melaksanakan shalat zuhur di Masjid Besar Kauman.

Dan terakhir, Jokowi akan menghadiri dialog di gedung Persatuan Djmaah Haji Indonesia (PDHI) di pojok alun-alun utara.

Namun sebelumnya Sri Sultan Hamengkubowo ke X menyatakan, bahwa ia tidak mau menyatakan dukungannya pada capres tertentu, termasuk pada Jokowi. Meski demikian, dia mempersilahkan apabila ada capres yang ingin sowan ke kerajaannya.

"Saya tidak condong ke mana-mana, nanti saja lihat di TPS 9 Juli," kata Sultan usai membuka Seminar Kedaulatan Pangan Kagama di Jakarta, Ahad (01/06/2014) kemarin.

.Lind@aNT/Rep/Dtk/JMP-21.

Suryo Prabowo: “Pelanggaran HAM Dan Status Kewarganegaraan Prabowo Yang Sengaja Dihembuskan Oleh Pihak-Pihak tertentu, Hanyalah Fitnah”



JAKARTA -  Anggota Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa, Suryo Prabowo, menyatakan, keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuktikan Prabowo Subianto bukan pelanggar HAM dan hanya memiliki satu kewarganegaraan, yaitu warga negara Indonesia.

KPU telah menetapkan pasangan Prabowo-Hatta dan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pasangan calon presiden-calon wakil presiden melalui Surat Keputusan KPU Nomor 453/KPPS/KPU.

"Penetapan KPU tersebut
membuktikan dan mematahkan semua tudingan miring yang selama ini dituduhkan pada Prabowo sebagai pelaku pelanggaran HAM dan memiliki dua kewarganegaraan, dan itu cuma difitnah " kata Suryo Prabowo, di Jakarta, Senin,(02/06/2014).

Dia mengungkapkan, fitnah yang ditujukan kepada Prabowo sebagai pelaku pelanggaran HAM sengaja dihembuskan pihak-pihak tertentu.

"Ini sisa persaingan masa lalu. Ada beberapa jenderal purnawirawan yang masih menganggap Prabowo itu ancaman. Lantas isu HAM ini dimunculkan kembali. Dikiranya rakyat gampang diprovokasi," kata dia.

"Salah besar jika Prabowo dituding pelaku pelanggaran HAM. Justru Prabowo jadi korban pelanggaran HAM," kata Suryo.

Oleh karena itu, lulusan terbaik dan penerima bintang Adhi Makayasa Akademi Militer pada 1976 itu menghimbau jenderal seniornya untuk memberi contoh yang baik pada juniornya. 

"Jadi tolong bagi lawan politik Prabowo, para purnawirawan senior saya, jangan lagi memfitnah Prabowo dengan membangun opini negatif melalui dengan cerita fiktif
. Oleh karena itu, berikan contoh kepada para juniormu dan rakyat Indonesia cara berkompetisi yang sehat sebagaimana layaknya seorang ksatria. Bukankah kehormatan ini yang selalu diajarkan pada kita di Akademi Militer, di Lembah Tidar," imbauannya.

Selain itu melalui keputusan KPU tersebut, Prabowo dinilai tidak berprilaku tercela dan tidak memililki hutang.

"Selama ini ada isu yang sengaja dihembuskan kalau Prabowo itu memiliki hutang. Ini isu sangat menyesatkan," katanya.

.Lind@Ant/Rep/JMP-21.

Minggu, 01 Juni 2014

Peristiwa bersejarah: “Prabowo Beri Hormat Pada Megawati, Contoh Bentuk Diri Sebagai Rasa Jiwa Seorang Negarawan”



JAKARTA - Peristiwa bersejarah terjadi sebelum melakukan pengundian nomor urut pasangan peserta Pilpres 2014, dihelat di gedung KPU, Ahad (01/06/2014) siang. Dimana, capres Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto berkesempatan bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam pertemuan itu menjadi menarik, lantaran keduanya pernah sempat berseteru. Pasalnya, pembatalan sepihak Perjanjian Batutulis yang dibuat pada 2009 oleh PDIP membuat hubungan Prabowo dan Megawati renggang. 

Adapun gara-gara itu, Mega dilaporkan sulit ditemui Prabowo yang ingin mengklarifikasi keputusan PDIP yang akhirnya memutuskan mengusung Jokowi sebagai capres. Padahal, salah satu isi perjanjian tersebut adalah PDIP mendukung pencapresan Prabowo di Pemilu 2014.

Seolah mengabaikan peristiwa sebelumnya, Prabowo dan Hatta yang hadir lebih lambat dibanding pasangan Jokowi-JK tidak canggung bertemu rivalnya. Malahan, mantan komandan jenderal Kopassus itu memberikan salam khusus kepada Mega. Dengan gerakan khas seorang prajurit, Prabowo yang mengenakan peci hitam dan berbalut baju putih lengan panjang dengan celana warna krem membuat gerakan tegap. Di depan presiden RI keempat itu, mantan panglima Kostras itu memberi hormat, meski Mega tetap tidak beranjak duduk di kursi.

Dari foto yang beredar, Mega hanya menyunggingkan senyum belaka. Adapun, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan Jokowi yang duduknya posisinya di samping kanan dan kiri Mega langsung berdiri. Keduanya seolah merespon hormat Prabowo.

Mega dan Prabowo memang pernah bahu-membahu di Pilpres 2009. Sayangnya, ketika itu mereka harus menerima kekalahan menghadapi pasangan SBY-Boediono. Kemudian, keduanya pecah kongsi di Pilpres 2014, dan kader kedua kubu terlibat pertarungan sengit.

.Lind@Ant/rep/Dtk/JMP-21.