Senin, 18 April 2016

Rutinitas Kesibukan Kerja Bukan Sebuah Penghalang Bagi Peningkatan Taraf Ekonomi Keluarga Maupun Bagi Masyarakat Sekitarnya

Pledokan - Banyak orang yang selalu dipersempit adanya kesibukan dalam kapasitas, sebatas ruang lingkup rutinitas kerja saja (Kantor, red). Bahkan juga kecenderungannya tidak dapat membagi, mensinergikan atau meluangkan waktunya untuk mencari kegiatan lain, yang ada nilai manfaat dan tambahan bagi peningkatan taraf kehidupan ekonomi keluarga, dan juga masyarakat sekitarnya.

Oleh karena itu saya ingin berbagi pengalaman dan memberikan sebuah contoh buat pembelajaran bagi kita semua. Yang mana ada salahsatu seseorang bernama Sinanto (54), yang merupakan bagian dari Pemerintahan Desa Pledokan,yakni sebagai Kepala Dusun(Kadus) Dusun Ngaglik, Kecamatan Sumowono-Pemkab.Semarang, yang mana dirinya dikenal sosok yang hidup sederhana, ramah, pekerja keras, dan menerima apa adanya, Senin (18/04/2016).

Disamping itu juga, dirinya dikenal sosok yang disibukan oleh pekerjaan rutinitas sebagai Kadus, namun masih sempat dan senantiasa tidak lupa menyempatkan waktunya untuk bertani, mengolah hasil kopi, ataupun menderes air legen pohon kolang-kaling (Aren, red). Dan hal itu dia lakukan manakala ada waktu luang atau pada hari libur.

Menurut Sinanto menuturkan, sebab bagaimanapun juga, bertani dan menderes legen untuk dijadikan gula itu sudah bagian awal kegiatan saya, sebelum menjadi Kadus. Dan itupun sudah turun temurun di keluarga kami.

“Sayang kalau kegiatan pekerjaan tersebut saya tinggalkan. Apalagi kegiatan itu telah banyak memberikan manfaat, dan juga merupakan nilai tambahan bagi penunjang kehidupan ekonomi keluarga saya,” tuturnya pada jurnalis media network  Jateng.

Diketahui, Sinanto telah mengabdi sebagai Kepala Dusun Ngaglik dalam cakupan wilayah Pemerintah Desa Pledokan sekitar 13 tahun. Dari pengabdian itu, dirinya selalu mengedepankan kepentingan masyarakat, termasuk juga menumbuhkembangkan potensi yang ada di dusun setempat, khususnya hasil potensi sumber daya alamnya.

Kemudian ia mengatakan lebihlanjut, karena kebanyakan masyarakat dusun sini rata-rata sebagai petani dan peternak. Namun juga ada yang menjadi sebagai pedagang. Untuk itu, guna menumbuhkankembangkan nilai potensi yang ada bagi peningkatan dan kesejahteraan taraf hidup ekonomi masyarakat sini, saya beserta teman-teman seprofesi, yang bekerja di kelurahan desa Pledokan membangun, mendorong dan memanfaatkan hasil panen masyarakat untuk menjadi komoditas nilai jual. Seperti hasil panen kopi dijadikan kopi bubuk, atau nderes air legen pohon aren dibuat gula aren.

“Mangkanya masyarakat dusun sini banyak yang bikin kopi bubuk dan gula aren.Bahkan dari hasil produksi kopi bubuk dan gula aren, sudah banyak dikenal oleh masyarakat diluar daerah wiilayah sini,” katanya.

Dari apa yang telah dilakukan masyarakat dusun Ngaglik sini, dalam memanfaatkan potensi yang ada didaerah sini untuk dijadikan nilai hasil bagi peningkatan taraf perekonomian, Sinanto menambahkan, tentunya tidak lupa juga, atas peran dukungan dari bapak Kepala desa Pledokan, BP3, PPL, dan Babinsa Koramil 10 Sumowono.

“Dan berkat hal itu, Dusun Ngaglik merupakan salahsatu dusun yang mendapatkan predikat nilai (Team 14 PLD) termasuk sebagai desa unggulan, mandiri dan sangat berpotensi,” penuturannya sambil tersenyum.

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Jumat, 15 April 2016

Peningkatan Produsen Kopi Bubuk Dusun Resowinangun Perlu Diperhatikan

Resowinangun – Melakukan pengembangan usaha kemandirian produksi kopi bubuk tentunya perlu mendapatkan dukungan dan juga perhatikan yang serius. Hal ini sebagai bentuk nilai sebuah potensi bagi peningkatan tarap hidup perekonomian kearifan lokal. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang petani kopi dusun Resowinangun, Desa Pledokan, Sumowono-Kabupaten Semarang, Waluyo.

Dalam usaha produksi kopi bubuk ini, menurut Waluyo menuturkan, awalnya atas keinginan Kelompok Tani dusun Resowinangun yang tergabung dalam Klomptan ‘Suka Maju I. Disamping itu juga atas binaan dan dorongan dari perangkat pemerintah desa setempat, bidang urusan UMKM.

“Dikarenakan atas keinginan para petani dalam kelompok tani Suka Maju I dusun ini, serta mendapatkan respon positif dan dorongan dari Kepala desa Pledokan. Maka saya terketuk untuk melakukan usaha kopi bubuk. Apalagi usaha kopi bubuk tersebut sangat berpeluang dan menjanjikan nilai jualnya,” tuturnya, Jumat (15/04/2016) siang.

Selanjutnya, waluyo yang juga merupakan Ketua klomtan Suka Maju I mengatakan, bahwa usaha pengembangan kopi bubuk ini, saya baru mengeluti sejak mulai tanggal 13 September 2015 lalu hingga sampai sekarang ini. Dan dari usaha itu saya, keluarga serta Klomtan dusun sini dapat merasakan nilai manfaatnya.

Sementara dalam usaha produksi kopinya, ia memberi Brand ‘Kopi Bubuk MURNI’ Desa Pledokan. Sedangkan untuk jenis kopinya, Waluyo memakai biji kopi jenis Robusta.

“Usaha produksi kopi bubuk Saya memakai biji kopi jenis robusta dari hasil panen daerah petani sini, meskipun terkadang juga tidak menutup kemungkinan memakai hasil panen petani kopi dari daerah lain. Itupun jika produksinya membutuhkan banyak atas pesanan pihak pemesan,” jelasnya.

Dari usaha produksi kopi bubuk murni ini, dirinya akan terus mengembangkan sayap tidak hanya konsumsi daerah sekitar, namun juga akan keluar wilayah daerah lain, seperti Semarang, Boyolali, Temanggung dll.

“Rencana dan impian saya akan ekspansi produk kopi bubuk murni ini ke wilayah daerah lain. Doakan saja cepat dapat tambahan modal dan perhatian serius lagi dari pemerintah daerah kabupaten setempat,” katanya berharap.

Diketahui, bubuk kopi murni produksi Waluyo dikenal sangat murni tanpa campuran bahan pengawet. Adapun untuk harganya persaset terendah isi 1/2one seharga Rp.4000; Sedangkan 1 Kilogrmnya Rp.80.000;
Dan pemesanan kopi bubuk murni desa Pledokan hasil produksi Waluyo tersebut bisa langsung dipesan melalui kontak person: 08122 5195 881.

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Kamis, 14 April 2016

Bupati Semarang, dr H Munjirin Meresmikan Pasar Sumowono

Sumowono – Guna memenuhi kebutuhan jalannya roda perekonomian kerakyatan di daerah pedesaan agar berjalan tertib, lancar, mandiri dan berkesinambungan, Bupati Semarang, dr. H Munjirin pada hari Rabu, (13/04/2016) pukul 19.00 WIB meresmikan pasar Sumowono, Ungaran-Kabupaten Semarang.

Sementara dalam peresmian pasar tersebut, Bupati Munjirin yang didampingi Kepala dinas pasar pemkab, Dandim 0714, Danramil 10, Kapolsek, Camat dan Kades Setempat, juga mengadakan peninjauan dan berinteraktif tanya jawab langsung dengan para pedagang.

Diketahui, pasar Sumowono merupakan titik sentral perdagangan yang mencakup tiga bagian pasar yakni; pasar pagi, pasar desa dan Ps. Pemda.

Adapun kapasitas penempatannya bagi para pedagang yang telah memenuhi sekitar 60%. Sedangkan untuk para pengunjung (pembeli,red) per harinya rata-rata kurang lebih 40%.

Berlangsungnya acara peresmian pasar itu juga dimeriahkan dengan adanya pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Dan hal ini menjadikan masyarakat setempat terlihat begitu respontif dan antusias.

.Doc:  MTM/GD-N/Media Network Jateng. 


Jalan Sehat Persada Sumowono Berlangsung Tertib, Kondusif Dan Meriah

Sumowono – Dalam rangka menyambut peresmian pasar Sumowono Kabupaten Semarang yang akan dibuka dan diresmikan langsung oleh Bupati dr H Munjirin, Rabu (13/04/2016) pukul 19.00 WIB. Para pedagang pasar Sumowono yang tergabung dalam wadah ‘Persatuan Para Pedagang’ (Persada) Kecamatan Sumowono-Ungaran terlebih dahulu mengadakan jalan sehat bersama.

Adapun acara jalan sehat tersebut dimulai dari pukul 06.30 hingga selesai 09.00 WIB.

Menurut salahsatu personil aparat Koramil 10 Sumowono, Serma Soejarwoto yang juga sebagai koordinator penanggungjawab lapangan mengatakan, bahwa jalan sehat in merupakan bentuk apresiasi masyarakat, khususnya para pedagang dalam rangka menyambut dan memeriahkan peresmian pasar Sumowono yang akan diresmikan langsung oleh bupati nanti malam.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, tertib, kondusif dan aman terkendali. Hal ini karena kami bersama dengan pihak jajaran aparat Polsek setempat senantiasa saling bahu membahu mendampingi dan mengamankan jalannya acara jalan sehat ini,” tuturnya.

Sementara itu acara tersebut berakhir finis dititik central pasar setempat dengan dimeriahkan, solo orgen, seni tradisional reog dan undian Dorsprise bagi para peserta jalan sehat.


.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng. 

Senin, 11 April 2016

Gelar Uji Coba Pertandingan Di Stadon Jatidiri Semarang, PSS Sleman Kerahkan Lima Ratus Sporter

SEMARANG - PSS Sleman kembali menghadapi PSIS Semarang di laga uji coba. Pertandingan tersebut akan digelar di Stadion Jatidiri Semarang, Sabtu (09/04/2016) malam.

Dalam uji coba menghadapi PSIS Semarang, PSS Sleman akan kerahkan suporter hampir kurang lebih lima ratus personil. Hal ini guna memotifasi dukungan pada klub favorit andalannya.
Dukungan suporter PSS Sleman yang mencapai angka tersebut tampak terlihat dalam iring-iringan 10 truk, ditambah 4 bus yang mengangkut para suporternya, dan ini membuat disepanjang jalan raya terlihat macet. Namun dari hal tersebut dapat teratasi berkat kesigapan para koordinator penanggungjawab yang membawahi para suporter dengan dibantu pengawalan Patwal.

Sementara itu menurut pelatih PSS, Seto Nurdiyantoro mengatakan, bahwa dalam laga nanti PSS bakal memberi tugas khusus pada lini tengahnya. Pemain yang ada di posisi itu seperti Busari, Anang Hadi, Awang, Dirga Lasut dan Chandra Lukmana dituntut untuk lebih kreatif dalam memanjakan para striker.

"Dengan pola penyerangan ini semoga saja bisa mengulang kemenangan pertama, seperti ketika lawan PSIS sebelumnya," kata Seto Nurdiyantoro.

Namun di sisi lain, pertandingan ini sekaligus menjadi ajang pembuktian para pemain PSS, terutama yang masih berstatus sebagai pelamar. Dari sekian banyak pemain, ada tiga sosok yang dinilai memiliki kewajiban tersebut seperti Eko Prasetyo, eks stoper PSIS Semarang dan Persijap Jepara yang bertugas di lini belakang. Walaupun telah mengikuti seleksi dan diturunkan dalam dua uji coba, penampilan Eko dinilai belum memuaskan tim pelatih. Kemudian ada Saefudin, eks Persebaya 1927 yang bermain di lini tengah dan Jodi Kurniadi, stiker muda lokal yang juga masih dipantau perkembangan kemampuannya.

"Masih kita pantau, setelah lawan PSIS kemungkinan baru ada keputusannya. Mereka cocok atau tidak memperkuat tim. Untuk lini belakang cukup puas dengan manajemen pertahanan yang dilakukan," jelasnya.

Di samping ketiga pemain tersebut, tim pelatih juga bakal melihat kemampuan para pemain lainnya. Seperti Ahmad Rajendra yang terakhir bermain di Persela Lamongan. Dari rekam jejaknya, gelandang bertahan yang rencananya baru datang pada Sabtu (09/04) itu, ternyata juga bisa dipasang sebagai bek kanan maupun stoper. Tak heran keberadaan mantan awak Timnas U-16 dan U-19 B ini diharapkan bisa melengkapi skuat Super Elang Jawa dalam Indonesian Soccer Championship (ISC) B.

Manajer PSS Sleman, Arif Juli wibowo juga menginformasikan, selangkah lagi pihaknya bakal mendapatkan tanda tangan eks bek PSIM Yogyakarta, Eko Pujianto. Kedatangan pemain asal Padang itu diperkirakan baru terjadi pekan depan. Disusul satu striker juga akan bergabung dengan PSS setelah melawan PSIS Semarang.

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Kamis, 07 April 2016

Dusun Ngaglik, Desa Pledokan, Merupakan Sebuah Dusun Yang Banyak Menyimpan Nilai-Nilai Potensi unggulan



Ngaglik – “Angin berhilr alur nafas kesejukan. Gemericik air beralir jalur ketenangan. Dibalik serumpunan bambu- bambu dan pepohonan, terlihat burung-burung berdendang nyanyian cakrawala rayaNya, begitu indah dan merdu. Sementara dibawah kaki-kaki jelajah naungan jiwa ibu pertiwi tegak berdiri, terbentang hamparan pemandangan sawah yang dikelilingi kerapatan hutan yang begitu hijau nan sejuk memukau. Ditambah, anak-anak keturunan berkayut lahir dari kasih sayang penduduk yang bermasyarakat hidup bersahaja, sederhana, ramah dan rukun. Berlabuh sirkulasi jalannya perekonomian, atas kelimpahan kerahmatan, keberkahan, dan kesuburan ‘Sumber Daya Alamnya (SDA)’ yang banyak memiliki nilai-nilai potensi. Serta didukung tempa oleh keteguhan, kemandirian dan kerja keras potensi hasil Sumber Daya Manusianya (SDM). Dari hal itu, aspek-aspek kehidupan membentang  ranah  bercungkup bidang; pertanian, perkebunan, peternakan dan kewirausahaan. Hingga, siapapun yang datang berlaku lelap ketempat daerah tersebut akan merasakan kegaguman dalam selimut awan keteduhan, kenyamanan, dan kedamaian”.
 
Dari sekilas ilustrasi sastra semesta alam diatas yang saya apresiasikan, mengambarkan suatu daerah  yang ada dibawah lereng gunung Ungaran, yakni tepatnya di daerah Dusun Ngaglik, Kelurahan Pledokan, Kecamatan Sumowono-Kabupaten Semarang, Kamis (07/04/2016) pagi.

Menurut Kepala Desa Pledokan, Turja’un mengatakan, bahwa dusun Ngaglik merupakan sebuah dusun memiliki luas -+76,7Ha dengan penduduk sekitar 546 jiwa, terdiri laki-laki 286, perempuan 260 orang. Dan rata-rata penduduknya tak jauh beda dengan dusun-dusun lainnya, yakni bekerja sebagai petani dan peternak, dengan hasil dan pendapatan komoditas dari pertanian dan perkebunan adalah tanaman padi, jagung, ubi jalar, sayuran dan buah-buahan. Sedangkan untuk sektor peternakannya seperti ternak kambing, sapi dan ayam.

“Sebenarnya dusun Ngaglik tak jauh beda dengan dusun-dusun lainnya yang ada di wilayah pemerintah desa Pledokan. Hanya saja, setiap masa hasil panen yang berasal dari daerah itu, biasanya masyarakatnya, sebagian hasil panennya dijual dan sebagian lagi diolah sebagai usaha nilai bagi tambahan penghasilan. Seperti jahe yang dijadikan sirup jahe, deresan air aren dijadikan gula aren, kopi menjadi kopi bubuk, serta ketela pohon atau umbi jalar menjadi criping goreng,” jelasnya.

 Selanjutnya, Turja’un menambahkan, adapun untuk beberapa warga yang berternak seperti sapi, biasanya perahan susu sapinya diambil, dan diolah menjadi minuman susu segar. Sedangkan untuk kotoran ternak sapinya dijadikan sebagai pupuk.

“Dari kedua hal tersebut, baik itu olahan perahan susu sapi maupun kotoran sapinya menjadi pupuk, masyarakat dusun Ngaglik selalu manfaatkan untuk nilai jual. Kan lumayan sebagai tambahan penghasilan,” imbuhnya.

Selanjutnya  Kades Turja’un menuturkan, ada sebuah keunikan di dusun Ngaglik, dan sangat menarik, sehingga membuat kagum banyak orang. Dimana dari daerah terpencil tersebut mempunyai tempat /wadah dalam hal sektor pendidikan non formal yang dikenal dengan nama ‘UPLIK’, yakni sebuah tempat sebagai sarana taman bacaan dan pengajaran ilmu pengetahuan bagi warga penduduk setempat.

Adapun Uplik ini merupakan ide dasar untuk mencerdaskan dan membangun masyarakat gemar membaca.

“Dengan ide dasar itu, maka dibuatlah adanya taman bacaan dan sekaligus juga sebagai tempat pengajaran berbgai ilmu pengetahuan. Dan dari hal itu pula, harapannya masyarakat sini jangan ada yang buta hurup, ketinggalan informasi, dan tidak mengenal ilmu pengetahuan,” penuturannya. 

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Selasa, 05 April 2016

Dikarenakan Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono Telah Memenuhi Syarat dan Siap, Team 14 PLD Kabupaten Semarang Lakukan Penilaian Langsung Kelapangan



Pledokan – Menjadikan sebuah desa berkembang lebih maju, mandiri, aman dan sejahtera, tentunya dilakukan dengan hasil upaya kerja keras dan kesinergian dari berbagi pihak terkait. Baik itu masyarakat desanya maupun perangkat pemerintahan setempat. Hal ini telah ditunjukan dan dibuktikan pada Desa Pledokan, Sumowono-Kabupaten Semarang, sebagai desa unggulan dalam segala prioritas. Apalagi desa  tersebut merupakan wakil dari kabupaten yang telah memenuhi syarat dan telah siap dalam penilaian lomba desa menuju jenjang ke tingkat Propinsi.


Menurut ketua team Penilaian Lomba Desa (PLD)Kabupaten, Sri Suryani mengatakan,  pada dasarnya desa Pledokan Kecamatan Sumowono adalah salah satu desa yang telah memenuhi syarat dan telah siap untuk mewakili Kabupaten Semarang. Oleh karena itu, kami dari team penilaian desa yang terdiri dari 14 team langsung turun melakukan penilaian dilapangan. Sebab dari penilaian langsung tersebut, tentunya dan nantinya akan dijadikan bahan referensi, apakah desa ini berpeluang dan akan lolos menuju ke tingkat selanjutnya, yakni ditingkat Propinsi.

“Kami langsung turun kelapangan melakukan penilaian, apakah benar-benar telah memenuhi syarat atas apa yang ada dilapangan,” tuturnya, Selasa (05/04/2016) pada jurnalis media online Network Jateng.

Kemudian Sri Suryani yang juga merupakan Sekretaris PKK Kabupaten Semarang menambahkan, adapun untuk kreteria penilaian lomba terbagi tiga item, yakni bidang pemerintahan, bidang wilayahan, dan bidang kemasyarakatan.


“Dari tiga bidang itu meliputi indikator administrasi, pelayanan kesehatan, pendidikan, keamanan, kewirausahaan, potensi hasil produk unggulan, dan kesejahteraan,” tambahnya.

Sementara sebelum acara penilaian lomba desa dilakukan, para team PLD disambut langsung oleh Kepala Desa setempat beserta jajaran perangkatnya, Sekretaris Camat (Secam), tokoh masyarakat, aparat Babinsa TNI AD-10 dan Polsek. Dan penyambutannya dimeriahkan dengan iring-iringan berbagai kesenian tradisional, seperti kesenian tari kuda lumping dan tari laskar Diponegoro.

Adapun untuk pembukaan acara PLD tersebut ditempatkan di Balai Desa Pledokan. Sedangkan penilaian lomba desanya, dipusatkan ada di titik empat wilayah, yaitu Dusun Pledokan, Ds Ngaglik, Ds. Resowinangun, dan Ds.Kemuning.

Dan untuk pelaksanaan PLDnya dimulai dari pukul 10.00 hingga selesai 17.35 WIB.

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.