Senin, 05 November 2012

Kuda Lumping, Tarian Tradisional Sebuah Nasib Yang Tersisikan Dan Benar-benar Menungging



Dalam Lingkaran
berputar-putar
penari tak sadarkan diri
mata terpejam
mengunyah beling
mempertahankan hidup yang sulit……

Seklumit sebuah lirik album ‘Swami’ Iwan Fals & Sawung Jabo. Hal itu menunjukan gambaran realitas yang sangat jelas, bagaimana seorang penari kuda lumping dalam mengais sekepil rejeki untuk hidupnya dengan / harus mempertahankan diri pada ritme - ritme alur sebuah kehidupan yang serba sulit dan penuh resiko. Padahal kita tahu bahwa tari tradisional tersebut merupakan bagian budaya kaluhuran leluhur bangsa kita. Dimana tercermin sarat memilki nilai - nilai filosofi adiluhung, aktualisasi pesan moral dan karakteristik sebuah karya nilai seni.

 
           . Ilustrasi By: JKY@21 .

Namun sangat disayangkan, banyak kita jumpai dipinggiran sudut jalan raya. Bagaimana gambaran orang - orang tersebut. Entah itu dirinya seorang seniman atau hanya pelaku aku dianggap sebagai seniman yang harus melakukan tindakan mencari sekepil uang dengan cara menari dengan diiringi alunan beberapa perangkat gamelan. Yang mana, sesungguhnya dilakukan pada tempat tidak semestinya. Bukankah hal itu sebuah pemandangan yang tragis dan memalukan? Ataukah nilai seni tari tradisional kaluhuran leluhur tersebut sudah tak beraura perbawa lagi? Ataukah di era kebebasan sebuah perubahan yang katanya menjunjung moral seni budaya, sudah tak mau atau bahkan enggan untuk mengangkat, mengembangkan dan mewadahi tari tradisional seni budaya tersebut? Ataukah peran dan fungsi pemerintah yang membawahi instansi / Departemen yang membidangi dalam bidang seni budaya telah mati? Ataukah mungkin dan jangan - jangan; seni budaya tari tradisional semacam itu sudah tak dapat dijual atau tak mampu sebagai bahan aset nilai hasil wujud bagi negara?
 Ataukah…ataukah…ataukah……………………………………………………………………….........hiaaaaa….!
Sementara dalam prefektif pemikiran dan hasil penelitian, bahwa kuda lumping / jaran kepang / jatilan merupakan sebuah tari tradisional budaya warisan nenek moyang, khususnya masyarakat jawa. Dan ada sejak jaman kerajaan - kerajaan tempo dulu
Adapun tarian tersebut lahir, menurut sejarah, atas sebuah wujud apresiasi dan ekspresi yang terbagi menjadi beberapa bentuk / simbol, antara lain;
-       Bentuk sebuah simbol keprihatinan kaum jelata / rakyat terhadap suatu keadaan adanya ketidakadilan, kepalsuan dan kebohongan.
-       Bentuk sebuah simbol bahwa kaum jelata / rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara.
-       Bentuk sebuah simbol sebuah tontonan / hiburan yang fundamental dan fenomenal milik kaum jelata / rakyat.
-       Bentuk sebuah simbol sebagai bentuk protesnya kaum jelata / rakyat terhadap kaum penguasa atas tindakan kesewenang-wenangan.
Kemudian dalam realitas perkembangannya, seni tradisional kuda lumping tidak hanya tertumpu pada batas tataran grafik budaya misi sosial kemasyarakatan saja. Namun juga digunakan pada suatu kepentingan historikal misi keagamaan dan politik.
Oleh karena itu, apapun bentuk dan wujud dalam perkembangannya, merupakan budaya apresiasi dan ekspresi dari hasil olah karya milik bangsa kita. Dan hal itu, tentunya diri kita harus bangga untuk dapat menjaga dan memeliharanya dengan baik. Serta terus mempertahankan dan mengembangkannya. Agar tari tradisional tersebut tidak tenggelam dan hilang ditelan catatan waktu dari khasanah berkesenian masyarakat kita.

. Doc. MTM - 21 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar