Selasa, 03 Januari 2017

Mengenal Lebih Dekat Pemandian Rakyat Sido Muncul, Banyubiru

Ambarawa - Ditilik dari letak geografis dan dari data Pemkab. Semarang, pemandian Sido Muncul, desa Banyubiru, Ambarawa merupakan profil kawasan wisata rakyat yang banyak memiliki potensi dan destinasi pada sektor pariwisata. Hal ini dapat dilihat dari struktur pemandangan alam yang indah, elok, subur dan natural (alami), terutama sumber alam kejernihan airnya, hasil perikanan dan pertanian. Apalagi disekitar sepanjang bukitnya dikelilingi pohon hutan dan bambu.

Menurut salahsatu penduduk desa setempat, dan juga sebagai pengelola pemandian wisata rakyat tersebut, Mustaqim saat dikonfirmasi mengatakan, pada dasarnya Desa Banyubiru adalah sebuah desa yang elok, subur dan sangat berpotensi. Baik alam hutannya, tanahnya maupun sumber airnya. Senin (02/01/17) Siang.

Oleh karena itu, saya bersama beberapa warga setempat punya gagasan, yakni memberdayakan aliran sungai yang ada di desa ini menjadi tempat yang dapat menghasilkan nilai bermanfaat. Maka dari itu, diwujudkanlah aliran sungai tersebut menjadi tempat wisata pemandian,” katanya.

Selanjutnya dirinya menuturkan, dulunya sebelum menjadi tempat pemandian. Aliran sungai ini sebagai tempat pencucian, pengairan sawah dan acara ritual kungkum pada hari Selasa/Kamis Kliwon atau mandi keramas jelang Ramadhan.

“Untuk itu, kami bersama-sama melakukan swadaya penataan, pembersihan, pengerukan maupun pengurukan. Selanjutnya talud kami pondasi dan jalannya kami cor. Setelah selesai dan berhasil, baru kami membuka untuk usaha pengelolaan pemandian tersebut,” urainya.

Dari hal ini, lantas Mustaqim menambahkan, dengan kami buka pemandian tersebut sebagai pemandian wisata rakyat, taraf hidup ekonomi masyarakat desa sini berubah dan makin meningkat. Dimana ibu-ibu yang menganggur maupun mau cari tambahan bisa pada berjualan, terus anak mudanya, baik yang masih sekolah atau pengangguran dapat membuka tempat parkiran atau pun menyewakan ban pelampung. Dan yang terpenting dapat menumbuhkan nilai hasil manfaat, serta dapat membuka lapangan kerja.

Sementara untuk biaya masuk hanya dikenakan Rp.2000/orang. sedangkan untuk sewa ban pelampung Rp.2000 (ban pelampung kecil) dan yang besar Rp.5000.

Adapun hasil yang diperolehnya rata-rata Rp. 500 ribu untuk hari libur, dan Rp. 200-300 ribu pada hari biasa.
“Dari hasil yang diperoleh tersebut, kami bagi untuk membayar gaji penjaga dan penyewa ban pelampung antara 4-5 orang. Sedangkan sisanya di tabung, juga untuk kebutuhan yang lainnya,” jelas Mustaqim.

Sedangkan saat disinggung untuk harapan kedepannya, Mustaqim mengatakan, ya tentunya pemerintah kabupaten setempat, dengan melalui dinas pariwisata diharapkan dapat memberikan perhatian dan prioritas, manakala jika terjadi direnovasi bagi pengelolaan wisata pemandian rakyat desa ini lebih khusus, tentunya untuk kesejahteraan masyarakat desa sini.

“Disamping itu, kan bisa juga dapat sebagai bahan rujukan dan tambahan aset denitasi pariwisata di daerah sini,’ tuturnya.


.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar