Sabtu, 26 Maret 2016

Bambang Wijono, Petani Lada Teladan Dan Sukses Dari Desa Kuncen


Kab.Semarang – Bambang Wijono (57) merupakan sosok petani pengembangan budidaya tanaman lada (Mrica) asal Desa Kuncen, RT.13/RW.III, Karang Duren, Tengaran-Kab.Semarang yang terbilang sukses, teladan  dan banyak orang mengenalnya. Apalagi diketahui dirinya dikenal sosok yang sangat sederhana, bersahaja dan mau terbuka berbagi pengalaman dalam hal-hal soal pertanian maupun perkebunan.


Dalam pengembangan budidaya tanaman tersebut, menurut Bambang adalah upaya hasil kemandirian keluarga dan bagian dari rintisan awal turun temurun dari mendiang kakeknya.

“Alhamdulillah semua hasil pengembangan tanaman lada ini merupakan hasil kemandirian, meskipun awalnya rintisan dari keluarga, mendiang kakek buyut saya sekitar tahun 1920 lalu, dan dilanjutkan pada titiknya pada diri bapak saya sekitar 1980 dan selanjutnya dipecah pengembanganya ke lahan keluarga lainnya tahun 1999,” tuturnya, Jumat (26/03/2016) siang

Selanjutnya dirinya menjelaskan, bahwa penanaman tanaman pohon lada ini dilakukan dikarenakan masyarakat daerah desa sini belum ada yang menanam tanaman lada. Apalagi daerah sini tektur tanahnya sangat subur dan sangat berpotensi.


“Karena masyarakat daerah desa sini dulunya belum ada yang menanam, dan diketahui di daerah ini sangat subur, berpotensi dan cocok, maka mendiang kakek yang diturunkan ke bapak saya, yakni Suwarno mencoba dan melakukan penanaman. Dan Alhamdulillah berhasil hingga sampai sekarang ini, meskipun dari hal itu dilakukan dalam proses pasang surut atau berkelanjutan dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Sementara dalam penanaman dan pengembangan tanaman pohon lada itu dilakukan di dua tempat lahan, yakni di tempat tanah milik peninggalan mendiang kakeknya seluas -+1 Hektar dengan sekitar 1000 pohon lada, serta dilahan milik Bambang Wijono sendiri sekitar -+1/2Ha, hampir kurang lebih 350 pohon lada. Sedangkan dari penanaman dan pengembangan tersebut dimulai awalnya dari sistem biji, yang kemudian dilakukan rata-rata melalui sistem penyetekan.

Adapun ditanyakan soal nilai hasil panen dan penjualan ladanya, Bambang menuturkan untuk masa panen sekitar -+1-1,5 tahun jenis lada untuk sistem setek, sedangkan -+2,5-3 tahun yang dari sistem biji. Dan dari hasil panen semuanya, biasanya sudah ada pembelinya dan itupun langsung datang kerumahnya.

“Jadi sekarang ini kita tidak susah-susah atau repot-repot lagi dalam soal penjualan hasil panen harus dibawa ke pasar, karena para pembelinya langsung datang sendiri, dan sudah pada yang tau. Apalagi jaman sekarang ini akses dan komunikasi sangat mudah,” katanya tersenyum.

Dan untuk harga ladanya, Bambang Wijono mematok harga rata-rata Rp. 170.000/Kg untuk jenis lada putih. Sedangkan yang jenis hitam sekitar Rp.175.000/Kgnya.

Setelah dari nilai hasil jerih keringat dari pengembangan dan penanaman pohon lada yang selama ini telah dilakukan oleh diri Bambang Wijono dan keluarganya mencapai sukses, serta membuahkan hasil yang berprospek masa depan. Masyarakat sekitar daerah tersebut sekarang ini mulai terbuka dan banyak yang antusias untuk mengikuti jejaknya.

.Doc: MTM/GD-N/Media Network Jateng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar