Sabtu, 26 Maret 2016

Implisit Nilai Identitas Sebuah Idealisme Dan Realisme Dalam Goresan Dunia Seni Lukis



Oleh: MT. Mudjaki

Di abad modern yang berpijak pada perekonomian pasar bebas dan terdominasi adanya transformasi teknologi serba cangih, mudah dan instan, serta kecenderungan bersifat industrialistik, materialistik dan egoistik, tentunya tidak membuat para seniman lukis tanah air Indonesia menjadi nglokro atau menghilangkan jejak ruang sebuah ‘Idealisme dan Realisme’. Malah seharusnya para seniman semakin terpacu picu untuk tetap berkarya, menumbuhkembangkan kreatifitas, menciptakan inovasi-inovasi baru dan terus menghidupkannya. Sebab bagaimanapun juga, bukankah dari karya seniman lukis yang tercipta lahir dari jejak ruang sebuah idealisme dan realisme tersebut, merupakan karya yang memiliki nilai arti seni tinggi, mempunyai kepekaan rasa yang kuat (power of feeling), hidup, dan fenomenal. Bahkan karya lukisan tercipta lahir dari hal itu juga, banyak membuat orang terkesima dan berdecak kagum melihatnya.

Untuk mengenal, menapak dan memahami implisit lebih mendalam tentang karya cipta yang lahir dari jejak ruang sebuah idealisme dan realisme pada diri seorang seniman, tentu tidak lepas dari kehidupan yang ada di alam jagad raya ini. Baik itu kehidupan manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Yang mana, dari hal itu merupakan wujud pemaknaan akan nilai-nilai rasa kepedulian, penghayatan bathin, dan jati diri (identitas) dari garis sapuan/goresan menjadi bentuk sebuah karya yang teraktualisasikan.

Dan itu artinya, bahwa seni lukis adalah sesuatu yang hidup (Art Vivant), damai, jujur dan apa adanya. Sedangkan diri pelukis harus dapat menjadi saksi atas kehidupan disekitarnya atau dilingkup zamannya. Oleh karenanya, pelukis harus betul-betul melukis sebagaimana yang ia lihat, hayati dan rasakan dalam kehidupan nyata (sebenarnya).

Adapun kecenderungan kapasitas untuk memenuhi identitas atau cirinya saat mentransfer idea-idea yang diendapkan, serta dalam proses gerakan alur goresannya yang pada akhirnya menjadi sebuah lukisan, biasanya melakukan empat tahapan, yakni;
  1. Meditasi; perenungan
  2. Pemaknaan jiwa
  3. Aktualisasi sketsa
  4. Nilai hasil karya ciptanya
Disamping dari ke-empat hal tersebut, juga diapresiasikan dengan bentuk kekuatan pandangan dan pemikiran yang mencerminkan pada diri manusia dalam kodrat ketulusan, kepedulian dan kejujuran. Serta sebagai sebuah symbol nilai perjuangan pada suatu perlawanan atas ketidakadilan dan ketimpangan yang tengah terjadi dikehidupan ini. Dan bukan hanya sekedar ketika mengores polesan dalam hal-hal kehidupan ini semata-mata pada keindahan saja.

Seperti contoh karya-karya lukisan terkenal milik Goustav Courbet, Jean-Francois Millet, Edouard Manet, dan Ilya Repin. Termasuk juga karya seniman lukis yang ada di Indonesia seperti R. Shaleh, Dullah, Jihan, Affandi, Kho poo dll. 

Dari hal tersebut diatas, maka diri saya berkesimpulan, bahwa seorang seniman lukis yang telah dan dapat menciptakan karya-karya yang begitu luar biasa, fenomenal, banyak orang yang mengagumi, serta tidak lekang oleh suatu masa, pada dasarnya identitas sifat dan karakteristiknya mencerminkan sebuah paham:
“Idealisme dan Realisme itu hidup, damai, jujur dan nyata. Karena dari hal itu merupakan suatu gerakan manifestasi kesatuan jiwa rasa fitrahnya manusia itu sendiri.”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar