Senin, 13 Oktober 2014

Ternyata Para Produsen Tahu Tempe Cenderung Memilih Kedelai Impor Dibandingkan Lokal



.Disebabkan Karena Soal Harga Dan Minimnya Pasokan.

Jakarta - Kualitas kedelai lokal dinilai lebih baik ketimbang kedelai impor asal AS. Namun sayangnya, produksi dalam negeri masih terlampau sedikit untuk memenuhi permintaan pasar.

Oleh karena itu menurut Anggota Dewan Pengawas Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Suharto, Minggu (12/10/2014) mengatakan, bahwa selama ini kedelai yang diimpor dari AS berkualitas grade tiga dan grade dua. Dan itu kualitas untuk pakan.

Adapun kedelai impor tersebut dibeli oleh produsen tempe tahu dari importir dengan harga Rp 7 ribu per kilogram untuk grade tiga. Sementara untuk grade dua harganya Rp 7.650,00 per kilogram. Menurut Suharto, harga kedelai impor kualitas terbaik harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per kilogram.

Dan Suharto kembali menuturkan, harga itu dinilai terlalu tinggi untuk ongkos produksi. Sehingga, para produsen lebih memilih kedelai impor yang harganya lebih murah. Hal itu menjadikan para produsen tempe tahu selalu kesulitan memperoleh bahan baku kedelai lokal.

"Kebutuhan kedelai menurut Kementerian Pertanian sekitar 2,5 juta ton per tahun," imbuhnya.

Akan tetapi ia menaksir produksi dalam negeri hanya 400 ribu ton per tahun. Karena, menurut catatan Kementrian Perdagangan impor kedelai per tahun mencapai lebih dari dua juta ton. Dari total kebutuhan tersebut, sebanyak 1,6 juta ton adalah permintaan dari produsen tahu dan tempe.

Selanjutrnya ia menambahkan, kedelai lokal selalu ludes hanya dalam dua minggu setelah masa panen.

"Hasil panen hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan setempat dan tidak bisa memenuhi permintaan daerah lain," ucapnya.

.Ant/Rep/JMP.21.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar